Matematika Ada, Bukan untuk Dicintai

Bismillah….


Kebanyakan murid-murid ane di sini berfikir bahwa cara yang baik untuk memudahkan belajar matematika adalah dengan pertama-tama menyukainya, bahkan sampai mencintai pelajaran matematikanya. Suatu ketika seorang murid bercerita saat ane tanya “kesulitan nte dalam belajar matematika apa?”, doi jawab, “aku bingung bunda, padahal aku udah berusaha mencintai matematika, tapi kenapa tetep ga bisaaaaaa :(“. “Teori dari mana, pengen bisa harus cinta dulu?” aye jawab. Serontak murid-murid di dalam kelas terheran-heran, “Emang bunda ga cinta matematika?”. Tanpa fikir panjang, aye langsung  jawab, “Kenapa harus cinta?”

Ane heran binti bingung, kenapa murid-murid ane masih berfikir seperti itu? Padahal aye dah ingetin sampe leih dari 3 kali, kalo belajar matematika itu disarankan agar tidak melibatkan perasaan. Kalo mau juga libatkan ambisi. Walopun ane kaga tau secara detail apa definisi perasaan dan ambisi. Tapi menurut ane ambisi itu adalah suatu perasaan yang selalu hadir di relung-relung fikiran seseorang, sehingga mendorongnya untuk selalu mendapatkan tujuan yang “diambisikannya”. Sedangkan definisi global, perasaan adalah seseatu yang muncul akibat reaksi/ respon seseorang menanggapi suatu hal, datangnya spontan berdasarkan apa yang sedang terjadi atau dialami seseorang. Jadi, perbandingan belajar matematika pake perasaan dan ambisi bisa ane jelaskan dengan berbagai pandangan seperti di bawah ini:

  1. Dari segi waktu : aye yakin akan lebih efektif orang yang belajar dengan obsesi, kalo yang pake perasaan cenderung akan lebih lama belajarnya, karena tergantung situasi dan kondisi saat itu.
  2. Dari segi motivasi : misalnya ketika pembagian nilai, orang yang berambisi tidak akan puas kalo belum sampe targetnya, ia akan termotivasi untuk terus memperbaiki nilainya sampai targetnya tercapai. Sedangkan orang yang peke perasaan, mau kecil, mau besar, ya tergantung kondisi n situasi saat itu, peluang muncul motivasi itu kecil.

Nah, itu kalo mau belajar pake “perasaan”, cuma perasaan yang mana yang lebih efektif. Pasti pada tau kan pilihannya.

Kalo ane semenjak masuk sma, jarang pake perasaan buat belajar matematika, soalnya, dari kecil ane leih suka belajar matematika dibanding yang lain, tapi pas sma, kok ga bisa belajar matematika. Ternyata suka ato ga suka matematika itu ga pengaruh besar terhadap nilainya. Mau suka atau ga suka, matematika tetep akan ada dimanapun. Jadi terima takdir aja, kalo matematika akan selalu ada, maka satu-satunya agar kita nyaman hidup berdampingan dengan matematika adalah dengan mempelajarinya. Kalo masalah jadi suka atau cinta mah itu bonus, rezeki dari Allah.. hehe..🙂

One thought on “Matematika Ada, Bukan untuk Dicintai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s