Jurus Rahasia Menaklukan Matematika

Bismillah…
Image

“BISA karena BIASA, biasa karena DIPAKSA”

Pepatah yang satu ini udah saya kenal sejak duduk di smp kelas 2. Waktu itu saya lagi ikutan les bahasa inggris, di salah satu buku referensinya ada kalimat itu, saya cuma baca sekilas, ketawa cekikikan pas denger artinya, waktu itu saya merasa hal itu lucu, tapi lama kelamaan kalimat itu kebawa sampai sma, sampai kuliah, bahkan sampai sekarang. Kalimat itu yang kadang membangunkan saya ketika melakukan sesuatu yang saya anggap sulit untuk dikerjakan, dan pada akhirnya saya bisa mengerjakannya sampai tuntas, bahkan tidak jarang menjadi kebanggaan saya tersendiri.

Misalnya saat SMA, semester 1 nilai matematika dan kimia saya cukup memprihatinkan, di kelas sulit nangkep, nilai ujjian cukup memprihatinkan, wal hasil nilai rapot cukup jeblok, kimia 6, matematika 5 (tapi masih ake pensil belum sampai merah). Pada saat itu guru matematika berbaik hati memberikan kesempatan pada muridnya yang pernah mendapat nilai ujian diatas 7 untuk mengadakan perbaikan nilai, dan alhamdulillah saya pernah dapet 7😀, jadi punya kesempatan untuk tidak menodai rapot dengan tinta merah.

Mungkin motivasi terbesar saya memperbaiki nilai pada saat itu adalah kakek saya. Rapot harus diambil oleh orang tua, namun kedua orang tua saya berhalangan, maka kakeklah yang mewakilinya. Namaku dipanggil, kakek maju untuk mengambil, keluar dari kelas kakek tidak berkomentar banyak, ngasih liat rapot dan langsung pamit pulang, karena saya masih ada kegiatan lain di sekolah. Saya ga berani buat nongol depan kakek pada saat itu soalnya tersirat di muka kakek setitik kekecewaan. Kalo ama nenek kemungkinan akan diintrograsi kenapa hasilnya bisa seperti itu ditanya dari a-z.Kakek, sekalinya ngasih nasihat itu kena dan dalem banget, padahal cuma beberapa kata saja.

Liburan semester saya dibekali tugas perbaikan nilai rapot matematika, ada 2 bundel rangkuman materi dan kumpulan soal-soal yang harus saya isi. Liburan saya habiskan di rumah paman yang jadi dosen matematika pada saat itu. Lembaran demi lembaran saya buka, satu persatu kutiti kata demi kata, sambil menghela nafas saya coba mengerjakan satu soal, dua soal, tiga soal, sampai 10 soal. Setelah dicek oleh pamanku, soal pertama aja udah salah, saya unjukin lah hasil hitungan saya, ternyata kesalahan saya bukan pada pemahaman materi, tapi perhitungan saya yang keliru, merasa mudah dikerjakan, setiap saya mengerjakan soal pasti buru-buru, melongkapi step-step perhitungan dasar. Dengan bimbingan paman, saya dibantu agar mengerjakan soal dengan tenang, menuliskan caranya selangkah-demi selangkah, agar mudah dikoreksi sendiri ataupun oleh orang lain, berjalan begitu seterusnya sampai selesailah semua soal dikerjakan.

Waktu berlibur 2 mingggu, setengahnya saya gunakan khusus untuk meninba ilmu matematika, ternyata jurus yang ampuh mengerjakan soal matematika adalah tenang, pahami konsepnya, jangan dihafal, dan berlatihlah. Kalo orang yang suka sepak bola mungkin lebih mengerti dalam menguasai teknik matematika. Seseorang yang tidak bisa main bola akan menjadi pemain bola yang hebat jika ia berlatih, bagitu pula dengan matematika, latihan akan mengasah kemampuannya.

Alhamdulillah nilai matematikapun berubah dan paten menjadi 6 di rapot semester 1. Ternyata bukan nilai di rapot saja yang saya daptkan pada saat itu, tapi nilai-nilai moral dari berlatih matematikapun bisa saya fahami.

Semester 2 adalah penentuan jurusan di kelas 2 sma nanti. Saya dipanggil ke BK untuk konsultasi masalah jurusan mana yang akan saya pilih ketika kelas 2 nanti, guru menawarkan, “kelas IPS atau Bahasa?”, Foker Face saya pasang dan menjawab, “IPA”. sang guru tersenyum dan bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang sama, jawaban yang keluar dari mulut sayapun tidak berubah. sampai ketiga kalinya bliau bertanya, “Beneran mau IPA?”, saya mengangguk sambil tersenyum, “tapi kan nilai rapot yang kemarin Matematika dan Kimianya masih kecil? Nilai sosial dan Bahasanya lumayan, kemungkinan peluang untuk masuk IPS atau Bahasa besar..” tambah sang guru. Masih tersenyum saya bilang, “saya akan masuk kelas IPA Bu,,,” sambil berbisik di dalam hati, “Gue benci banget ama kimia,  liat aja gue bakal naklukin kimia!”. Sang guru agak sedikit kebingungan, nih anak aya aya wae, udah mah, anak baru yang pertama dipanggil orang tuanya ke BK, dan sekarang keukeuh lagi pengen masuk IPA. “Ok, kalo kamu mau masuk IPA nilai matematika dan Kimia di semester dua harus lebih baik lagi ya”. Pesan terakhir sang guru menutup konsultasi saat itu.

Berbekal jurus untuk menaklukan matematika dan kebencian yang amat sangat terhadap kimia, nilai rapotpun nampak seperti percaya ga percaya gitu, matematika 8 dan kimia juga 8. Jadi deh saya masuk kelas IPA. Hal yang signifikan terlihat di semester 3, saya yang sangat membenci kimia, ditawari masuk KIR (Karya Ilmiah Remaja) bidang Kimia, dengan alasan nilai ujian saya terbesar kedua di kelas dan kesalahannyapun bukan hal yang membahayakan. Lama kelamaan saya asik mengerjakan matematika dan hilang pula rasa benci terhadap kimia. bukan sesuatu yang ajaib klo pada akhirnya nilai rapot kelas 2 sma saya pada pelajaran matematika dapet nilai 9🙂.

Jadi, selama kita punya keinginan untuk bisa melakukan sesuatu maka paksakanlah kita melakukannya sampai terbiasa dan sampai kita menyadari kalo kita sudah BISA!

Bohong besar jika kamu mau bisa matematika tanpa memaksakan diri belatih matematika,
bohong besar jika kamu mau bisa disayangi orang tanpa memaksakan diri berbuat baik pada orang
bohong besar jika kamu mau bisa masuk surga tanpa memaksakan bangun malam untuk qiyamul lail memohon Ampunan-NYA.

Kalo MAU, pasti BISA, maka PAKSAKANLAH!

One thought on “Jurus Rahasia Menaklukan Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s