Nulis Skripsi Seenak Jidat

Bismillah…

Nulis skripsi sesuai aturan kan udah, dah dijilid pula, dah dkumpulin malah di perpus. Nah, kalo saya bisa nulis skripsi seenak perut, pastinya rasanya kaya coklat, bentuknya kaya cookies, harumnya kaya lemon. Tapi sayang, di sini saya hanya bisa nulis skripsi seenak jidat saya aja :p. Jadi kaya begini hasilnya >>>

Judul :

WATERMARKING DIGITAL PADA CITRA DI RANAH FREKUENSI DENGAN MENGGUNAKAN DISCRETE COSINE TRANSFORM (DCT)

Latar Belakang :

  1. Sebenarnya, saya terinspirasi buat ngambil tema skripsi tentang watermarking sejak masuk kuliah Multimedia pas semester 8 tahun 2009 kalo ga salah,  iya denk, pokoke bertepatan dengan PKM Penelitian yg alhamdulillah bisa lolos juara ke-6 tinggkat Universitas, dan gara-gara presentasi PKM saya harus ikut UAS Multimedia susulan dan dapet nilai B. Ujian susulan multimedia saya harus mempresentasi tentang salah satu bahasan yang dipelajari di Multimedia. Secara random, saya memilih bahasan tentang Watermarking. Otomatis, saya harus cari banyak bahan, referensi, jurnal yang berkaitan dengan bahasan tersebut. Dari sanalah cerita skripsi ini dimulai.
  2. Sejak mulai bergelut dan tertarik dengan Multimedia spesifikasi Gambar itu, sejak saya tergabung dalam kepanitiaan dan kebanyakan diamanahi untuk menempati posisi sebagai panitia publikasi dan dokumentasi. Jadi suka jeprat-jepret, capture sana-sini, edit ini-itu, desain-desain, cetak segala macem, dan banyak lagi. Ditambah lagi, kalo saya lagi ga ada kerjaan suka iseng ngotak-ngatik software yang berhubungan dengan Multimedia.
  3. Beberapa karya hasil jepretan dan editan ada juga yang saya share di internet, entah itu lewat blog, flickr, facebook, twitter, 4shared, dan jejaring sosial lainnya. Banyak diskusi, ngobrol-ngobrol, sharing dan segala macamnya dengan para penghuni komunitas di sana, akhirnya saya merasa perlu nih, melindungi citra hasil karya saya, agar tidak disalah gunakan, kalopun ada yang mau pake🙂

Maksud :

Lulus Kuliah pastinya, walaupun saya sering iseng secara serius. Sungguh, skripsi itu hal yang serius, tapi kenapa saya ngerjainnya iseng-iseng???

Tujuan :

Setidaknya faham tentang konsep watermarking lah ya, bisa n ngerti bikin programnya, jadi pas sidang moal nge-hank teuing, plus klo bisa sukses nerapinnya mah, syukur Alhamdulillah.

Konsep Ide :

Berawal dari baca-baca jurnal orang tentang watermarking pada citra. Sebenarnya judul skripsi di atas ini kurang spesifik, karena pembahasan tentang hal ini sangat global sekali, dan sudah banyak dibahas orang. Namun, yang bikin beda dari bahasan punya orang adalah metode yang saya gunakan. Sebenarnya saya juga ga tau nama metodenya apa, cuma inspirasinya datang dari dua ide yang berbeda.

Jurnal pertama membahas proses watermarking dengan menggunakan 2 citra yang bertipe sama, citra induk dan citra watermark yang akan disisipkannya memiliki tipe JPG dan berwarna. Disisipkan dengan cara mentransformasikan kedua citra dengan menggunakan DCT dan di ranah frekuensilah penyisipan dilakukan.

Jurnal yang kedua membahas proses watermarking dengan menggunakan 2 citra yang berbeda. Citra induk yang digunakan bertipe JPG dan berwarna, sedangkan citra watermarknya menggunakan citra biner bertipe bnp yang  hanya mempunyai nilai biner {0,1}. Penyisipannya sama di ranah frekuensi dengan terlebih dahulu mentransformasikan citra induknya menggunakan DCT.

Nah, dari sanalah ide skripsi ini muncul, dengan mengombinasikan kedua metode yang dibahas di dua jurnal itu. Jadi inputnya tetep 2 citra bertipe JPG dan berwarna (terinspirasi dari jurnal 1st), proses penyisipan tetap dilakukan di ranah frekuensi. Namun terlebih dahulu citra induk ditransformasi DCT, sedangkan citra watermark hanya diambil nilai binernya saja (terinspirasi dari jurnal 2nd). Jadi yang awalnya citra watermark diinputkan JPG dan berwarna, tapi yang diproses nilai biner citranya, dengan cara meng-convert nilai RGB menjadi nilai biner. Jiaaaaah,, ribet bener dah bahasanya.

Kita langsung liat dah diagramnya, semoga dengan ini bisa menjelaskan alur proses watermarking itu sendiri. Kita langsung capcus, cekidot…

Proses Watermarking, ini dibagi ke dalam 2 proses yaitu :

  1. Proses Penysipan : Menyisipkan logo pada citra yang akan dilindungi
  2. Proses Ekstraksi : Memisahkan dan Mengungkap kembali logo yang disisipkan

Hasil :

Ini nih saya coba kasih contoh gambar dan prosesnya sekalian :

  1. Proses Penyisipan,  input : file bunga.jpg sebagai citra asal, dan file logo.jpg sebagai logo yang akan disisipkan. Di sini juga diperlihatkan histogram masing-masing citranya, agar terlihat perubahan derajat keabuan citra setelah dan sebelum disisipi. 
  2. Proses Ekstraksi, inputnya : citra terwatermark dan citra asli sebelum disisipi sebagai pembanding nilai DCT-nya.

Sebenarnya hasil dari penelitian ini kurang memuaskan, karena tujuan awalnya tidak dapat tercapai dengan sempurna. Sebuah watermarking idealnya mempunyai beberapa karakteristik seperti yang sudah saya teliti, tadinya watermark ini ingin mempunya karakteristik sebagai berikut :

  • Fidelity, perbandingan antara kualitas media penampung setelah disisipi watermark dengan kualitas media aslinya, Pada penyisipan yang baik, watermark pada citra tidak dapat terdeteksi oleh indra manusia dan tidak dapat dibedakan dengan media aslinya.
  • Robustness, yaitu watermark yang disembunyikan harus tahan terhadap manipulasi atau serangan yang dilakukan pada citra penampungnya.
  • Recovery, yaitu pengungkapan terhadap data yang disembunyikan. Watermark yang disisipkan harus dapat bisa diambil kembali dari citra yang tersisipi tersebut.

Alhamdulillah dari ketiga karakteristik tersebut hanya 2 yang bisa terpenuhi, jadi ya kalo mau dibilang gagal juga, ga gagal gagal amat gitu loh,,

Citra yang ter-watermark memiliki sifat fidelity yang sangat tinggi, kalo orang liat langsung ga bakal bisa bedain secara mendetail perubahannya, tapi hal ini juga tidak berlaku untuk citra over-exposed atau citra yang terlalu terang dan
memiliki nilai histogram tinggi di derajat ke-255, tidak dapat mempertahankan keberadaan logo, begitu pula citra berfrekuensi rendah yang mempunyai nilai histogram di daerah derajat 255. Perubahan citra setelah disisipi logo nampak
terlihat dengan timbulnya bintik-bintik gelap pada bagian citra yang banyak mengandung warna putih, jadi karakteristik fidelity bisa bertahan dalam citra under-exposed aja.

Citra yang ter-watermark juga memiliki sifat recovery yang cukup lumayan, hanya saja citra induk yang dipakai haruslah mempunyai dimensi antara 100×100 – 2900×2900 sedangkan citra logo, maksimal mempunyai ukuran dimensi setengah dari ukuran dimensi citra induknya.

Nah, yang terakhir sifat robustness itu sama sekali tidak bisa bertahan di sini, setelah mengalami beberapa manipulasi citra dasar seperti resizing, grayscale dan add noise, logo citra yang tertanam sama sekali tidak dapat diungkap kembali.

Tapi mau bagaimanapun, itulah hasil penelitian saya, sebuah penelitian ga harus selamanya sukses kan, dari kegagalan ini ada pembelajaran bagi mahasiswa lain yang ingin meneruskan penelitian ini,, saya cukup sampai di sini saja hehe,,

Selamat berkarya! Jayalah terus matematikawan Indonesia!😀

NB : Bagi yang ingin baca paper skripsi saya, bisa diunggah di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s