kisah tragis sepatu malang

Bismillah…

Suatu hari, ketika aku masih SMP, bapaku membelikanku sepatu cats hitam bergaris putih (aku lupa latar belakang kenapa bapa membelikanku sepatu). Tapi aku ingat raut muka bapa ketika menunjukanku kotak berisi sepatu yang berada di sebelah lemari bukunya itu. Senyum dikit, hanya beberapa mili, sambil melanjukan membaca dan mengerjakan pekerjaannya.

Aku, anak yang merasa dewasa dan cukup matang dalam pemikiran ini (red. ga tau diri) dengan perasaan yang aneh kuambil kotak tersebut, dengan spontan ekspresi mukaku mengerut seraya berkata, “kok gini???”. Bapa, dengan pandangan tajam tertuju kepadaku, raut muka seolah berubah drastis 180 derajat, bliau bertanya, “kenapa?”. Aku menggerutu, dengan banyak kalimat yang tak tersusun rapi, yang aku jadikan sebagai benteng perlindungan dari omelan bapa, alasan ini itu aku keluarkan, pendapat, persepsi dan semua pemikiran mengenai penolakan penerimaan sepatu itu aku ungkap dengan sadar, setengah gila. Aku setengah berlari masuk ke kamar tanpa mendengarkan apa yang bapa bicarakan, sambil menangis ku tutup pinu kamar, dan tidak bisa merenung, hanya bisa menangis dan bertanya, “kenapa dibeliin sepatu kaya gitu???”

Suasana rumah sangat mengerikan, perang dingin terjadi, markas besarku hanya kamarku saja, teman baikku hanya kucing, tv dan radio saja. Keesokan harinya, mau ga mau aku harus berinteraksi dengan saah satu anggota keluargaku, kusapalah mamah. aku dapet perhatiannya, ku coba bertutur kata yang manis walaupun hanya beberapa kalimat setidaknya itu bisa menjadi awal percakapan kami. Tibalah saatnya mamah berkata dengan sangat hati-hati, kami mengobrol tidak pernah saling bertatapan, kami mengobrol sambil mengerjakan yang lain, kalaulah tak ada yang dikerjakan kami akan berpura-pura seolah mengerjakan sesuatu, itulah tradisi keluarga kami, ga bapa, ga anak, ga ibu, sama persis. Sepertinya ibuku berharap, saat ini aku mendengarkan apa yang akan ibu katakan, dengan raut muka standar yang selalu aku sajikan, aku coba mendengarkan tanpa berkata apapun, ibuku bilang, “kalo ada yang ngasih itu harus disyukuri, bisa jadi keberkahnmu itu ada di sana”.

Tak cukup lama aku memikirkan kalimat itu, akhirnya kuputuskan untuk memakai sepatu pemberian ayahku, ku bawalah sepatu itu ke kamarku, ku tatap lagi sepatu itu, sepatu hitam bertali, setinggi mata kaki, ada strip putih disamping kanan dan kirinya, ku coba analisa penyebab keditak sukaanku terhadap sepatu itu. Muter-muter, bolak-baik, akhirnya kutemukan. Mulailah aku memodif sepatuku sesuai dengan keinginanku. Cukup keren untuk seorang anak SMP, walau tidak terlihat perubahan significant dari sepatu itu, setidaknya aku sudah mengilangkan something yang aku anggap akward. Selesai kumodif, kutaro kembali sepatu ke dalam dusnya. Aku berikrar dalam hati, klo bapa ngasih apa-apa lagi akan aku terima dengan lapang dada, walaupun seperih apapun (lebai mode on).Aku siap untuk memakainya besok ke sekolah, ku tarolah sepatu itu di atas lemariku.

Keesokan harinya, aku sudah memasang muka friendly, manis dan siap tersenyum ke siapapun, karena hari ini aku akan memakai sepatu yang kumodif sendiri. Setibanya di kamarku, aku tak dapat menemukan sepatuku, dan aku hanya menemukan satu dus sepatu baru yang di dalamnya terdapat sepatu hitam kelam. Segera ku bawa keluar kamar dan kutanyakan pada bapa, “ini apa? sepatu yang kemaren mana?”. Mukaku sedikit cemas, tapi ibuku melihatku seakan menyampaikan suatu pesan. Aku coba mengontrol muka ku kembali ku ubah raut kecemasan dengan raut kegembiraan yang aneh, dan bersegera menyembunyikan mukaku setelah kulempar senyum ke bapa.

Ternyata bapa membelikanku sepau baru dengan model yang berbeda dari sebelumnya, dan sepatu baru yang kemari aku modif itu diberikan bapa ke anak pegawai bapa yang sekolah satu ttingkat denganku juga. Ketika kuketahui fakta itu, seolah badanku remuk, dunia hancur, gunung-gunung dan semua bebatuaan di dalamnya menimpaku. Ini adalah sepatu yang sedang ngetren pada saat itu, yang sama sekali tidak aku sukai modelnya, temanku baru saja membangga-banggakan sepatunya yang sama dengan sapatu ini, dan yang lebih menyakitkannya adalah sepatu itu tidak bisa dimodif manual. Ingin ku katakan pada bapa, bahwa sesungguhnya aku senang sekali dengan apa yang telah bapa beri, namun aku menyukai barang unik, bukan barang yanng sedang ngetren saat ini.

OMG, aku harus ssetia terhadap ikrarku, apapun yang terjadi aku harus menerimanya dengan tulus. Tanpa banyak bicara dan tetap memasang muka semu bahagia, kubrangkat sekolah dengan sepatu itu. Klo ad yang comment tentang sepatuku, seketika aku akan menatapnya tajam dan memberi senyuman sinis, seakan menyampaikan pesan, “berani lo ama gw?”

Hari-hari dengan sepatu itu pun berlalu, tanpa sepengatuan bapa, aku selalu memakai sepatu lamaku, atau tukeran sepatu dengan kaka, seringnya sepatu itu dipakai ama kaka. tanpa ku sadari bapa pun mengetahuinya, dan sepertinya sudah menyangka hal ini memang akan terjadi.

Beberapa bulan kemudian, bapa mengajakku membeli sepatu, dari toko sini sampai toko sana, samapi menelusuri beberapa daerah penjual sepatu, dan tidak dilakukan dalam 1 hari, aku tidak dapat menemukan sepatu yang cocok denganku. Akhirnya bapa menyerah, dan berkata, “ini uangnya, kamu beli sendiri aja ya sepatunya. Gih, dianter ama siapa aja terserah.”

Hehe,,bapa aku minta maaf telah menyusahkanmu, tapi aku pun tak mengerti dengan diriku.. yang dapat aku ambil deri review cerita ini adalah inti dari kesepahaman itu adalah komunikasi. So, sering-seringlah kita berkomunikasi, meluruskan hal-hal yang tidak saling kita mengerti, dan memberi pengertian yang bijak dalam mengambil keputusan.

Bapa SARANGHAE❤

One thought on “kisah tragis sepatu malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s